Akhir pekan ini, PT Pertamina mengumumkan membeli 32 persen saham
Petrodelta, S.A, Venezuela, milik Harvest Natural Resources Inc.
Transaksi dengan perusahaan minyak yang tercatat di bursa saham New
York itu diperkirakan bakal menambah cadangan minyak Pertamina
berlipat-lipat.
Petrodelta
merupakan cicit perusahaan milik BUMN pemerintah Venezuela, Petroleos
de Venezuela SA (PDVSA), yang memegang hak konsesi dari pemerintah
Venezuela hingga 2027 pada lapangan Uracoa, Bombal, Tucupita, El Salto,
El Inseno, dan Temblador. Keseluruhan cakupan wilayah ini mencapai
1.000 kilometer per segi.
Lapangan-lapangan Petrodelta
mengandung cadangan 486 juta barel ekuivalen minyak bumi (mmboe).
"Bandingkan dengan Blok Cepu yang hanya 250 juta mmboe," kata Wakil
Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Mochamad Harun, kepada VIVAnews, Jumat 22 Juni 2012.
Tak cuma di Venezuela, Pertamina juga mengincar aset-aset minyak di Kazakhstan
dengan total produksi 100 ribu barel per hari. Pertamina akan
menggandeng perusahaan migas asal Korea Selatan, Korea National Oil
Corporation (KNOC) kerjasama perusahaan hulu dan hilir migas di
Kazakhstan.
Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan,
menjelaskan kunjungannya ke Kazakhstan pada Mei lalu menghasilkan
pembentukan komite kerja antara Pertamina dengan perusahaan minyak
Kazakhstan, Kazmunaigaz. "Ini guna melihat aset-aset mana saja yang
diinginkan Pertamina, apakah visible atau tidak," kata Karen, 24 Mei.
Pertamina
telah mengidentifikasi tiga aset di negara yang dulu tergabung dalam
Uni Soviet ini. Namun, jumlah aset yang diincar Pertamina bisa saja
lebih karena Pertamina menginginkan total aset yang diakusisi memiliki
produksi 100 ribu barel per hari.
Jika Pertamina tak masuk ke
negara terluas ke-9 di dunia ini, kata Karen, maka akan rugi. Hal ini
karena penduduk Kazakhstan hanya 17 juta orang dengan kebutuhan minyak
hanya 250 ribu barel. Sisa produksi 1,25 juta barel diekspor. "Apalagi
negeri ini akan meningkatkan produksi minyaknya hingga 2,5 juta barel
pada 2016," kata Karen.
Direktur Hulu Pertamina, Muhammad
Husein, menjelaskan bahwa Pertamina terus berburu ke sejumlah negara
untuk menambah produksi minyak sebesar 28 ribu barel per hari. "Ini
tugas saya dalam tahun ini," katanya, beberapa waktu lalu.
Dalam
beberapa bulan terakhir, Pertamina memang dikabarkan getol menjalin
kerjasama dengan sejumlah perusahaan di Kazakhstan, Nigeria, Aljazair
dan Irak. Tujuannya satu, menambah produksi minyak yang di Indonesia terus merosot.
Dalam
satu kesempatan, Karen pernah mengatakan, ekspansi bisnisnya tak lepas
dari kondisi paceklik energi. Bagaimana tidak, produksi minyak siap
jual atau lifting Indonesia per April hanya 867.553 barel per hari,
jauh di bawah target lifting dalam APBN-P 2012 sebesar 930 ribu bph.
Karena
itu, Pertamina sebagai perusahaan penyedia energi dituntut untuk bisa
terus memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. “Mau
tidak mau, kami harus berubah,” kata Karen.
Selain itu,
Pertamina juga mengincar jadi perusahaan energi kelas dunia yang sudah
dimulai sejak 2008. Target pada lima tahun pertama, Pertamina bisa
mengalahkan Chevron yang saat ini menduduki posisi nomor satu dalam
urutan penghasil minyak terbesar di Indonesia dengan produksi 350 ribu
barel ekuivalen minyak per hari (mboepd). Karena itu, Pertamina terus
menggenjot produksi minyaknya sehingga meningkat dari 490 mboepd jadi
517 mboepd.
Pada lima tahun kedua, Pertamina yakin bisa bersaing
dengan perusahaan-perusahaan minyak terkemuka di Asia tenggara, seperti
Petronas dan Saudi Aramco. Di tahap ini, Pertamina tak lagi membangun
fondasi, melainkan keunggulan operasional. Lalu, pada 15 tahun
kemudian, Pertamina akan menjadi perusahaan kelas dunia. “Setidaknya,
kami bisa masuk 15 besar dunia,” kata Karen. Pada posisi ini, Pertamina
akan sejajar dengan Statoil.
Sebagai gambaran, pada 2015 nanti,
pendapatan Pertamina akan menjadi Rp705 triliun dengan laba bersih Rp34
triliun. Indikator lainnya, cadangan minyak naik 2,2 miliar barel
dengan produksi 776 juta barel minyak. Sedangkan proyeksi tahun ini,
produksi minyak hanya 470 juta barel.
Untuk mendukung target
itu, Pertamina akan menjadikan sektor hulu sebagai titik fokus
strategi. “Kami melihat pentingnya upaya menjamin sumber energi demi
kelangsungan bisnis dan kepentingan nasional,” tutur Karen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar